pendengar yang baik

Jadi Pendengar Yang Baik Butuh Emplik-Emplik

Tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang baik, dibutuhkan keterampilan khusus untuk mampu mengunci bibir dan memberikan lebih banyak porsi pada telinga, namun orang Indonesia ternyata punya solusi jitu atas persoalan tersebut. Emplik-emplik adalah sarana bagi para amatir untuk melatih diri menjadi pendengar yang baik.

emplik-emplik

Tak jarang kita datang ke seorang teman untuk sekedar berbagi cerita, mulai dari curhat soal pekerjaan, perkuliahan, asmara, maupun soal-soal receh yang kadang memenuhi kepala. Idealnya kita akan bertukar cerita dengan teman tersebut, karena seperti juga kita, ia pun juga membutuhkan seseorang untuk mendengarkan cerita-seritanya entah soal kegagalannya dalam menjalani tes CPNS, gaji yang tak kunjung naik, jodoh yang tak kunjung tiba dll.

Kata “ideal” memang sengaja saya pilih karena seperti “ kesempurnaan” ideal memang sulit tercapai. Karena alih-alih bertukar cerita, kejadian yang sering terjadi justru kita akan “dipaksa” untuk hanya menjadi pendengar saja. Bagi kalian yang mengalami soal serupa, yuk ! baca artikel ini sampai selesai.

Tuhan memang menciptakan dua pasang telinga dan satu mulut saja, namun ayat yang begitu terang benderang ini rupanya begitu sulit dipahami oleh sebagian dari kita, sehingga kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk bicara ketimbang mendengarkan dengan saksama.

Keinginan untuk didengar memang menjadi kebutuhan psikologis dasar manusia, namun tak jarang kita melupakan bahwa kita bukanlah satu-satunya manusia di planet bulat-lonjong bernama bumi ini. Begitu banyak spesies dari Homo Sapiens yang menapakkan kakinya disini bersama kita, oleh karena itu keinginan untuk didengar menjadi keinginan kolektif bagi kita semua.

Dengan memahami paragraf diatas, kita dapat menyadari betapa keinginan kita untuk didengar juga harus diimbangi dengan kemampuan untuk mendengar.

Persoalan mulai muncul ketika lingkup pertemanan kita tidak paham bahwa keinginan untuk didengar harus berimbang dengan kemampuan untuk mendengar. Atau saking semangatnya dalam bercerita membuat kita berada diluar kontrol sehingga mereduksi pemahaman tersebut. Namun untunglah ada emplik-emplik.

Emplik- emplik adalah semacam penemuan mutakhir yang memaksa seseorang untuk berhenti berbicara sehingga orang lain dapat mengambil jeda tersebut untuk gantian berbicara. Emplik-emplik sendiri ada begitu banyak ragamnya, mulai dari yang paling umum seperti kacang goreng, keripik, peyek, bahkan kerupuk. Atau yang sedikit berkelas seperti roti bakar, pisang bakar, kentang goreng, dan lain sebagainya.

Perlu di ingat juga, seperti halnya penemuan-penemuan mutakhir lainnya, empik-emplik juga punya dampak negatif yang perlu diperhatikan. Salah satunya ialah butuh alokasi dana khusus setiap kali sesi curhat dilaksanakan. Buat kalian yang tidak ada soal dengan keuangan tentu dampak keuangan ini bisa saja diabaikan, tapi bagi sebagian sobat misqueen yang hanya menerima gaji UMR tiap bulannya, soal emplik-emplik ini meskipun nyata sekali manfaatnya harus benar-benar diperhatikan sekali penggunaannya. Jangan sampai iuran kos tiap bulan harus nunggak gara-gara alokasi dananya berpindah kepada kebutuhan emplik-emplik yang tak terkontrol. Saran saya sih, jangan terlalu sering curhat bicara ngalor-ngidoel ghibah teman sendiri apalagi ngeluh. Karena salah-salah bukan solusi yang didapat melainkan bisa-bisa kamu diusir oleh ibu kos karena nunggak bayar kos-kosan. Nunggak kok tuman !!!

Memang benar kata pepatah dari negeri antah berantah “ Hidup itu pendek, sambatnya yang panjang….

Selain dampak finansial, soal yang perlu menjadi perhatian perihal emplik-emplik ini adalah menurunnya daya dengar. Memang benar, dengan disediakannya emplik-emplik dalam setiap tongkrongan akan mampu meredam keinginan nerocozz yang tak terkendali, namun perlu dipahami juga bahwa riuh dan ramainya mulut saat mengunyah dapat berakibat pada menurunnya daya dengar, sehingga seringkali kita hanya akan mendapat afirmasi anggukan dan kata “ya” saja setelah bercerita panjang lebar. Kejadian ini tentu tak luput dari dampak negatif yang ditimbulkan dari emplik-emplik.

Oleh karena itu, bijaklah dalam memilih emplik-emplik. Meskipun kacang goreng dua hamster selalu jadi primadona, tidak ada salahnya kita menggantinya dengan sukun godog, ataupun jenag-wajik dari berkat selametan. Kalau temanmu mulai bilang ini pengiritan, yakin kan dia bahwa menjaga budaya adalah jalan ninjamu.

Kesimpulannya adalah, emplik-emplik memang perlu! Terutama bagi pendengar yang masih amatiran seperti saya. Walaupun kadang mulut riuh ramai dengan suara tabrakan makanan dengan gigimu yang sibuk mengunyah, toh itu lebih baik daripada suara kita tak pernah didengarkan.

 

Salam.

Leave a Reply

%d bloggers like this: