pemilihan kepala desa

Pemilihan Kepala Desa dan Fenomena Dayang Desa yang Menangis

Pemilihan Kepala Desa adalah pesta bagi warga desa setempat. Namun tak jarang pesta 5 tahunan tersebut justru melahirkan polarisasi terhadap masyarakat yang berbeda pilihan. Perpecahan bahkan sampai permusuhan bisa saja terjadi, antar teman, tetangga, bahkan didalam anggota keluarga. Tapi percayakah, bahwa berbagai hal buruk yang bisa menimpa warga suatu desa selalu ada pertanda nya? “Dayang desa yang menangis” adalah salah satunya.

dayang desa

Menurut Kendalkab.go.id di bulan Maret tahun ini, akan ada 199 desa di kabupaten Kendal yang akan menyelenggarakan hajatan besar secara serentak, yakni Pemilihan Kepala Desa atau Pilkades.

Peristiwa ini mendapat tanggapan beragam dari masyarakat. Masyarakat dengan ekonomi pas-pasan atau cenderung kurang, biasanya akan menyambut Pilkades ini dengan sangat bahagia, pasalnya mereka akan mendapat berbagai kemewahan yang hanya datang 5 tahun sekali. Seperti, diajak bakal calon makan di restoran terdekat, pesta daging ayam ataupun sate kambing yang bisa jadi hanya bisa mereka nikmati ketika perayaan Hari Raya saja. Belum lagi amplop berisi lembaran rupiah yang bisa buat amunisi tambahan uang belanja mereka. Maka bagi mereka semakin banyak calon semakin membahagiakan.

Tapi tak cuma masyarakat dengan ekonomi pas-pasan yang merasa girang, seperti halnya pemilihan umum yang bertaraf nasional. Pilkades pun membutuhkan tim sukses yang siap berjuang untuk mempertebal isi dompet, eh berjuang untuk kemenangan calon yang didukungnya.

Maka ditunjuklah beberapa orang yang mengenal seluk-beluk dan dinamika masyarakat untuk melancarkan bakal calon kepala desa melenggang menduduki kursi panas tersebut dengan nyaman.

Tak lupa beberapa orang vocal alias BACOTAN yang siap menjadi benteng peyerang sekaligus pertahanan untuk memperkuat kedua sisi agar tak jebol oleh serangan lawan.

Dinamika yang sesungguhnya mulai terjadi ketika tim sukses atau biasa disebut Jago yang dibentuk mulai bersinggungan kepentingan dengan teman, saudara, tetangga, atau siapapun yang ditunjuk sebagai tim sukses lawan. Dari titik itulah perselisihan mulai memanas.

Layaknya permainan catur, pemetaan kekuatan dan strategi jitu bisa menjadi penentu mutlak sebuah kemenangan. Karena sekali salah jalan, alih-alih kursi kepala desa didapatkan, justru sertifikat sehektar sawah bisa berpindah tangan tergadaikan.

Tapi tenang kawan, Pilkades tak melulu tentang soal yang menyeramkan. Karena lewat moment ini kita diberi kuasa untuk menentukan pemimpin kita yang baru. Untuk itu mengenal sosok calon kepala desa merupakan langkah yang wajib kita tempuh. Agar masa depan desa yang kita cintai berada di tangan yang tepat.

Juga patut kita apresiasi pada siapapun bakal calon yang mendaftarkan diri, asal niat dan tujuannya demi kemaslahatan hajat hidup orang banyak. Bukan demi mempertebal kantong pribadi.

Setiap desa punya penyakitnya sendiri, mulai dari perangkat desa yang kurang disiplin, gagap teknologi, pelayanan yang kurang maksimal, transparansi yang masih jadi barang mahal, korupsi berjamaah yang jadi tradisi, kong-kalikong proyek pembangunan, dan masih banyak lagi, sampai tidak pahamnya perangkat desa atas kewajiban dan kewenangannya sendiri. GOKILLL!!!

Untuk itu momen ini adalah kesempatan kita sepenuhnya untuk memperbaiki keadaan. Dimulai dari menggali potensi dan visi-misi yang diditawarkan.

Tapi tentu kita harus paham bahwa setiap orang bebas menentukan pilihan, maka jangan sampai pesta ini menjadi sebuah manjadi awut-awutan.

Pemilihan yang berlangsung dari pagi hari saat masyarakat menentukan pilihan dibalik bilik. Harus berakhir ketika sore hari saat perhitungan suara selesai di hitung. Jangan sampai imbas pertarungan nya masih terdengar sampai berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan sampai 5 tahun mendatang―kayak dendam kesumat. Lalu saudara saling membenci, persaudaraan tersakiti.

Dahulu kala, para orang tua kita mempercayai sebuah “pertanda” yakni tangisan dari dayang penunggu desa.

Mereka percaya, jika “dayang desa menangis” suaranya akan  terdengar sayup-sayup ketika malam mulai lingsir. Maka, itu akan menjadi sebuah pertanda ada “bala’” yang  menimpa masyarakat desa.

Kejadiannya bisa kapan saja, paling sering, saat desa punya hajatan, seperti pemilihan kepala desa.

Peristiwa “Dayang desa yang menangis” secara logika keilmuan modern memang tidak mudah diterima, namun bahkan ilmu modern sekalipun tidak bisa dikatakan sebagai ilmu yang mencapai tahap kesempurnaan. Jadi jika ada diantara orang tua kita yang masih mempercayai itu, maka bisa jadi itu memang benar adanya.

Maka tugas berat untuk kita hari ini adalah selalu menjaga hajatan besar desa kita masing-masing agar berjalan dengan lancar, tanpa terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.

Kemudian duduklah saat malam mulai lingsir matikan segala suara dari gadget mu dan dengarlah…

Mungkin saja kamu akan mendengar Dayang desa mu sedang menangis.

 

Tabik.

Leave a Reply

%d bloggers like this: